Ahad lalu, aku sibuk seperti biasa, umumnya seperti pekerja rumah lainnya. Mengemas rumah, membersihkan apa yang perlu, juga memasak. Kebetulan, hari itu majikanku belanja mingguan. Aku membantu menurunkan barang-barang. Sekilas, aku melihat koran berita mingguan yang terbit hari minggu. Tidak langsung membaca, karena aku sendiri sibuk menyiapkan memasak. Baru setelah selesai memasak, aku ada kesempatan untuk membaca surat kabar. Dan, melihat halaman utama surat kabar tersebut (Berita Minggu Malaysia, red), aku urung membacanya. Melihat judul, “Kami diludah” aku begitu enggan untuk sekedar membukanya. Hanya melihat baris-baris pertama di bawah judul tersebut. Dan kembali meletakan surat kabar. Esoknya, masih sama aku belum membaca berita tentang isi keseluruhannya.
Perasaan ini sulit aku gambarkan. Tertanya-tanya sendiri, betulkah sebegitu buruknya perlakuan saudara-saudaraku di Indonesia kepada para pemain bola dari Malaysia? Aku tidak percaya, beberapa hari sebelumnya, salah seorang teman di internet juga membicarakan bagaiamana keadaan stadion pasca pertandingan. Tidak seburuk yang digambarkan Raja Gobal (Pelatih Timnas Sepakbola Malaysia). Ah, entahlah… Aku pun malas memikirkan lebih jauh…
Aku jadi teringat, beberapa hari sebelumnya, kamis, 30 desember 2010, saat aku berkunjung ke shelter KBRI di Kuala Lumpur. Shelter tempat penampungan sementara para tenaga kerja yang mempunyai masalah di Malaysia dengan para majikannya. Sebelum masuk ke shelter, aku menemui atase tenaga kerja. Dengan diantar salah seorang staf atase tenaga kerja, aku dibawa masuk ke shelter. Di sana, aku dipertemukan dengan Nofi, salah seorang ketua asrama shelter. Awalnya, Nofi mengira kalau aku juga adalah TKW yang bermasalah. Setelah dijelaskan serba sedikit oleh staf atase, akhirnya kami berbincang-bincang.
Setelah berkenalan, dan menanyakan asal usul Nofi berada di shelter, aku dibuatnya terperangah. Nofi, adalah pembantu dari peguam (pengacara) tersangka kasus pembunuhan Datuk Sosilawati. Katanya, ia “dibuang” begitu saja oleh istri sang peguam, setelah seluruh keluarganya berusaha melarikan diri. Sungguh awal yang mengejutkan ketika berbincang-bincang dengan para tenaga kerja di shelter. Lantas kami berbincang lebih jauh, tentang keterlibatannya Nofi selama ini di KBRI juga kesibukan apa selama ia mengemban amanah sebagai ketua shelter di penampungan ini.
Karena kesibukannya mengurus para tenaga kerja di shelter, Nofi menyilahkanku berbincang dengan teman-teman lainnya yang ada di shelter. Satu demi satu, sebelum aku mendekati mereka, seorang ibu-ibu mendekatiku. Memperkenalkan diri. Aku menyambut ramah uluran tangannya. Menanyakan sudah berapa lama ia di shelter, kerja di mana sebelumnya, juga kenapa sampai berada di shelter? Ia belum sebulan berada di situ, bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan majikan India. Katanya, ia dipindah-pindah majikan dan menjadi permainan agent, diperjualbelikan. Dia, menjadi korban trafficking.
Saat kami sedang berbincang, lagi seorang ibu-ibu datang mendekatiku. Ia mengulurkan tangan dan kami berkenalan. Dan lagi-lagi, aku menanyakan soalan yang sama. Sudah berapa lama di shelter, kerja di mana, dengan majikan apa juga kenapa sampai lari ke shelter? Ibu tersebut, baru tiga hari di shelter, tanggal 26 desember lalu ia melarikan diri dari majikannya, setelah berulangkali meminta pulang juga menuntut hak gajinya. Sayangnya, sehingga tiga tahun habis masa kontrak kerjanya, sang majikan tidak meluluskan apa yang dituntut pekerjanya.
Ketika sang pembantu lari, majikan berhasil menjejakinya sampi ke KBRI. Di sini, ditemukan benang merah. Mengusut lebih jauh tentang permasalahan juga bagaimana menyelesaikan apa yang terbaik. Alhamdulilah… menurut Ibu-ibu tadi, majikannya bersedia memberikan gaji dalam waktu dekat. Dan ibu tersebut, dapat segera pulang kembali ke Indonesia.
Bekerja di negara orang, mempunyai tantangan yang berat. Tidak mengira siapa majikannya, apakah India, Melayu ataupun China ketika majikannya berhati baik, maka akan selamatlah ia. Tidak semestinya yang bekerja dengan China teraniaya, karena banyak juga yang majikannya China, tapi ia bertahan lama, bahkan sampai bertahun-tahun. Tak semestinya juga bekerja dengan majikan india tanpa dera, karena seorang Muntik Hany pun tewas di tangan majikan lelakinya, tapi, ada juga temanku yang bekerja dengan majikan India ia, baik-baik saja. Pun, saat bekerja dengan majikan melayu, tidak menjamin ia akan selamat tanpa dirayu, karena seorang temanku, pernah mengancam majikan lelakinya dengan pisau saat berusaha merayunya. Dan aku, lima tahun bekerja dengan majikan melayu, alhamdulilah, baik-baik saja.
Melihat berita Raja Gobal, aku meringis, miris. Adakah anggapan semua orang Indonesia berlaku sebegitu rupa? Dengan kesannya, betapa buruknya orang-orang Indonesia? Dan, terpikirkah juga dengan wacana tenaga kerja yang teraniaya, adakah menganggap orang-orang Malaysia jahat semuanya? Hidup itu berpasang-pasangan, ada baik juga keburukan. Ibarat kata pepatah, jangan karena setitik nila, rusak susu sebelanga. Tapi, bukan berarti kita melegalkan bentuk kekerasan, apapun alasannya. Terutama, kepada tenaga kerja.
Penulis :
Anazkia
Pekerjaan : BMI (Buruh Migran Indonesia)
Blog : http://anazkia.blogspot.com






attayaya
kirain Raja Gobal adeknya Raja Gopal Pelatih Tim Bola sepak malaysia
Sigh.. mengapa ada foto saya? Huaaaa.. hiks
(