Lagi-lagi, saya masih gosok baju, heran deh, dari pagi nggak habis-habis fiuuhhhh… Nah, selama nggosok itu, saya kok yah teringat-ingat masa lalu sayah, yang selalu jadi upik abu, eh salah, maksudnya yang sudah sekian lama mbabu. Ada banyak kenangan dari masing-masing rumah. Almaklumlah, saya kerja sejak usia setelah pitik. Weleh, heran deh. Kadang mikir saya kok nggak kreatif, dari dulu kok menekuni kerja yang sama *halah, jadi panjang lebar deh*
Kembali ke cerita saya, semenjak pertama kali bekerja di Tangerang, saya termasuk orang yang jarang sekali berkumpul dengan teman-teman sesama profesi di ujung gank atau di tengah lapangan, layaknya pembantu2-pembantu lainnya. Saya hanya memiliki seorang kawan, namanya saya lupa, tapi raut wajahnya, saya masih mengingat jelas.
Lantas ketika di Pamulang, saya juga tidak memiliki teman. Hanya beberapa orang sekedar say hallo, ketika bertemu di masjid. Dan seorang lagi, adalah pembantu di rumah yang sama. Dari situ, saya termasuk orang yang canggung, bergaul sesama pembantu. Apalagi, kalau melihat pembantu yang dandanannya keren-keren, aduh, mengkeret deh saya. Karena kenyataannya, banyak juga para PRT yang dandannya enggak banget. Saya mending nggak temenan deh, dari pada dipandangi aneh ama mereka, karena dandanan saya yang selalu terkesan kampungan.
Kembali ke Cilegon, ketika bekerja dengan Om Christ selama lima tahun, saya juga nggak mempunyai temen sesama PRT. Sama sekali! Waktu itu, di perumahan yang kami tinggali, masih jarang ada PRTnya. Jadi, saya lebih banyak bergaul dengan teman-teman sekolah.
Dan ketika di rumah Om Christ inilah, saya melakukan hal bodoh yang merugikan materi. Mungkin karena masa remaja saya. Saya mempunyai seorang teman lelaki, amsih di wilayah Serang. Tapi dia menggunakan telpon rumah, dengan kode, 021, masuk wilayah Tangerang-Jakarta. Wal hal, ketika saya dan teman saya sering telpon-telponan, biaya telpon membengkak. Sampai Om Christ dan Om Benny, tidak mau membayar telpon, karena mereka tidak pernah memakainya.
Setelah beberapa bulan dan telpon dimatikan dari pusat, mau nggak mau Om Christ harus membayar, karena telpon tersebut di rumah kontrakan yang kami tinggali. Jumlahnya tidak sedikit, seingat saya dalam delapan ratus ribu. Uang sebanyak itu, pada tahun awal dua ribu, masih sangat banyak. Tapi yang saya ingat sekarang dan membuat saya menangis, Om Christ menanyai saya, tanpa sedikitpun amarah. Pelan-pelan dengan intonasi suara menennangkan *karena sayanya ketakutan* Om Christ hanya menanyakan nomor siapakah yang tertera dalam surat tagihan.
Akhirnya saya mengakui. Dan setelah itu, Om Christ tak membahas lagi tentang telpon. Om Christ baik banget kan…??? *huaaa.. saya mewek beneran…* Padahal, waktu itu ekonomi Om Christ tidak semapan sekarang. Masih ingat, setelah pindah dari blok A, dan kami pindah ke blok B, kami sempat kekurangan uang dan menjual koran hanya untuk membeli beras dan lauk.
Pengalaman paling berkesan kerja dengan Om Christ.
Setelah bekerja dengan Om Christ, saya bekerja dengan Ibu Murni, temannya Om Christ. Di rumah Bu Murni, dua tahun, sampai akhirnya saya ke Malaysia. Kali ini berbeda, saya mengasuh anak untuk pertama kalinya dan sejak saat itu, saya mulai banyak bergaul dengan sesama PRT, ke ujung jalan dan sesekali nongkrong di lapangan bersama dengan anak majikan saya. Tapi, saya tetap pilih-pilih teman dan saya masih nggak mau temenan sama PRT yang dandannya urakan.
Saya juga sempat ditanya, oleh tetangga majikan saya
“Mbak Ana, apa sih rahasianya kok bisa lama kerja sama Bu Murni?” Tanya seorang ibu, yang sudah berkali-kali ganti pembantu semenjak saya tinggal di situ.
“Owh, kami saling membutuhkan, Bu. Saya butuh uang dan Bu Murni membutuhkan tenaga saya.” Seingat saya, saya sedang menggendong anak majikan saya di ujung gank.
Dan lebih menyedihkan lagi dari ibu tersebut, penyebab para pembantunya lari adalah ulah suaminya sendiri. Tanpa sepengetahuannya, sang suami sering masuk kamar pembantunya tengah malam. Saya tahu ceritanya, karena pembantu2nya yang sudah pulang sering curhat ke saya dan teman saya yang satunya. Duh, nelangsa banget kalau inget ini. terakhir, ibu tersebut memperoleh pembantu baru, orangnya cantik luar biasa, tampang seperti model. Sayangnya, belum seminggu bekerja, ia sudah ketahuan mencuri. Walahhhh…
Dan sekarang, saya di Malaysia juga menggeluti profesi yang sama. Hakikatnya, meskipun saya sudah puluhan tahun bekerja, saya bukanlah PRT yang baik-baik amat. Tahun 2008 lalu, saya juga sempat kabur ke rumah kontrakan teman saya gara-gara masalah spele. Ah banyak kisahnya di Malaysia.
Nama : Anazkia
Pekerjaan : BMI (Buruh Migrant Indonesia)
Blog : Anazkia.blogspot.com
Url Postingan : http://anazkia.multiply.com/journal/item/603/Blak-Blakan_Pembantu_dan_Majikan





attayaya
wah wah wah….PRT tapi gag gaptek ^^d
mbak Ana, selamat berjuang…
keren lho mbak bisa ngeblog,
dibandingin yg lain yg gak bisa…hehehe…..
“PRT” cuman status pekerjaan doang mbak.
Ada mbak Rie Rie di Hongkong ngeblog juga, niih alamat blognya : http://babungeblog.blogspot.com/
salah satu pemenang ISBA AWARD (Lomba Blog Bergengsi di Indonesia) kategori Inspirasi terbaik th 2009.
wasallam
Ha.. aku kira Om Atta yang nulis, hahahaha… *SUARA DIHIDUNG MODE ON*
hahaha
harus itu
maunya pembantu Indonesia yang diluar negeri itu kayak si Sule di Awas Ada Sule